Senin, 17 Oktober 2011

SURGAKU YANG TAK TAMPAK LAGI

17 Mei 2011

Kegiatan mengajar seperti biasa namun semenjak aku di tunjuk sebgai salah satu dari panitia pendaftaran murid baru aku jadi lebih sibuk dan jarang di rumah, hari itu sepulang mengajar aku dan Ibu besrta kakak2ku yg lain bercanda dan mengobrol saat itu ibuku memang sedang kurang sehat ia batuk2 dan flu berat, di sela mengobrol aku tertidur sejenak, tapi jam menunjukan pukul 12.30 sudh waktunya aku harus menggantikan petugas yg lain untuk brjaga, seharusnya aku berjaga pagi tapi atas permintaan temanku aku ersedia berganti shif jaga siang, aku bergegas untuk jaga, waktu menunjukkan pukul 15.15 sore adzan pun berkumandang menunjukkan waktu shalat ashar tapi ak mash asyik mengobrol dg santriawati yg kebetulan ikut berjaga, "Bi Muf mau shalat duluan, apa Husna duluan yg shalat?" " ya udah Husna duluan aja deh nanti Bi Muf belakangan", aku meneruskan obrolanku dg santriwati tp tiba2 hp ku berdering aku heran krn nama yg muncul adalah Ummee itu berarti dr rumah, ketika kuangkat tiba2 ada suara kakakku menangis" muf cepetan pulang emak jatoh mulutnya berbusa dan dh ga sadar2" aku terdiam seribu bahasa antara kaet dan tidak percaya " Ko bisa, tadi gak apa2" " udh cepetan pualng" aku langsung saja berlari ke rumah, dan kulihat pintu dapur tertutup seteh aku buka aku melihat ibuku tergeletak ditengah pintu antara ruang taengah dan dapur, aku langsung menangis dan meloncati ibuku untuk menelp kakak2ku yg lain agar menolong ibuku dan memindahkannya ke tempat yg lebih enak, ku telepon kesana kemari tetap tak ada jaaban, mungkin krn saat itu waktu ashar mereka sedang melasanakan shalat ashar, tp kemudian ada juga yg mengangkat dan aku lang sung memberitahu bahwa ibu sudah tidak sadarkan diri, gak lama semuanya datang dan mereka langsung memindahkan ibu ke kasur lantai di ruang tengah, kami semua panik dan kami semua menangis terutama aku dan ka2k perempuanku, tak perlu waktu lama kami berinisiatif membawa ibu ke rumah sakit terdekat, aku panik dan tak sempat berganti baju, dan gak pernah menyangka bahwa hari itu hari terakhir aku mengobrol dengan ibuku, andai aku tahu akau akan meninggalkan seluruh kesibkanku dan tetap menemaninya di rumah sampai akhir hayatnya, sampai di rumah sakit ibuku langsung dapat pertolongan dokter tentunya dengan jaminan uang, kami menunggu dengan cemas, dan tak bisa lagi berpikir, yg ada dipikiran kami apakan ibu akan meninggalkan kami??? kami berdoa agar ia sembuh walaupun tidak total tapi kami mash bisa mengurusnya dan memberikan perhatian kepadanya, bahkan aku berjanji dalam hatiku kalau ibu ku sembuh walaupun kata dokter akan lumpuh aku akan berhenti ngajar dan fokus mengurusi ibuku setiap waktu aku gak perduli lagi dengan duania ini, malam sudah menunjukan pukul 12 malam sudah banyak saudara yg datang menjenguk dan merekapun pulang krn sudah larut malam, mata ini lelah tapi sulit dipejamkan karena yg terbayang adalah wajah ibuku terus menerus, aku teringat ia pernah bilang ingin melihatku menikah dengan laki2 yg baik dan sayang padaku, ia juga ingin tingal bersamaku jika aku menikah nanti, aku berharap ibuu bisa bertahan untukku, tapi tidak ada yg bsa melawan takdir, jam menunjukkan pukul 03.30 pgi aku duduk di hadapan ruang ICU tiba2 uster keluar dan bilang kelaurga siapa saja sebaiknya masuk karena keadaan ibu semakin menurun, ketk akulihat ibuku semakin menrun detak jantungnya aku berusaha menyemangatinya agar ia bertahan demi aku dan adikku tapi ia tidak lagi bisa bertahan aku trus melihat layar detak jantungnya setiap kali turun aku menangis, maka ku putuskan memanggil kaka2ku ke dalam untuk juga bisa menyemangatiku, kemudian kakak k masuk dan akau keluar untuk memberikan kabar ke kakakku yg d rumah mengenai keadaan ibuku yg terus menurun namun blm smpat aku memberi kabar tiba2 kakaku bilang kami harus masuk dan berkumpul tyernyata ketika masuk ke ruang ICU detak jantungnya hanya 25 terus menurun sampai akhirnya 0, kami semua meangis tak kuat menahan air mata ini akhirnya kakaku menyuruhku mengambila air wudhu dan membacakan yasin dan do'a untuk ibuku dari pada hanya menangis, krn memang dalam islam tidak boelh meratapi kematian dengan berlebihan dan lebih baik mendoa'kan. tidak lama setelah aku mengambil air wudhu tiba 2 adzan subuh berkumandang dan aku pun segera shalar shubuh lalu setelah itu membacakan yasin, kemudian ayahku datang ku lihat wajahnya sangat bersedih tak pernah kulihat wajanya sesedih itu ia pun seolah lemas dan duduk didepan ruang ICU bersamaku sebelum masuk kesana, setelah mengurus kepulangan jenazah ibu kurang lebih jam 05.00 pagi kami langsung bergegas membawa jenazah ibu ke rumah kami, dan sudah banyak orang yg di sana, aku tak lagi perduli dg penyelayat aku hanya duduk di dekat kepala ibuku dan mencium keningnya hingga 2 kali sbenarnya aku ingin lama mencium keningya namun karena tak boleh ada air mata yg menetes kekulitnya aku tak bisa berlama2 mencium keningnya, masih terasa samoai saat ini pipinya yg lembut bak bayi yg baru lahir dan masih terngat harumnya wangi surgaku yg entah kapan aku bisa menciumnya lagi.... bersambung

di tulis dgn penuh lerai air mata
10.33 PM